Ujung Sumatera sedang tidak baik-baik saja.
Jejak langkahnya sedang berduka.
Tatkala lentera sinarnya merana,
Sumatera terundung lara.
Ku seduh air kopi ke dalam gelas.
Ku minum airnya yang sudah tak panas.
Kita sedang tidak melihat drama tragis.
Kita rasakan saudara kita disana sakit dan menangis.
Banjir bandang, tanah longsor, pun air bah membawa luka.
Kali ini bencana datang tidak biasa.
Hataman jutaan entah miliyaran kayu gelodongan dalam bencana.
Menambah derai lara menjadi duka.
Ujung Swarna Dwipa tertikam kisah pilu.
Aku rasa burung bangau pun merasakan ngilu.
Pohon penyangga tanah biasanya nampak hijau.
Berubah jadi tikaman pisau, mengunus saudara kita yang telah terkena ranjau.
Tanyaku dalam bingung pikir dan hati, mengapa ini harus terjadi?
Untuk apa korporat-korporat tega menyakiti?
Oh rupanya untuk memperkaya diri.
Oh ternyata lewat kongsi bejat dan persekongkolan korupsi.
Tidak bisa tidak, masalah ini harus di usut tuntas dan diakhiri...!!!
Sebab mau sampai kapan ini terjadi?
Benar juga kata kawan di warung kopi,
Biasanya cita-cita anak ingin mulia dan lestari, jadi penguasa, pengusaha, hingga anggota TNI-POLRI.
Tapi begitu sekarang lihat berita, banyak pelaku kuasa yang culas dan pemburu rente, dengan laku korupsi.
Senin, 8 Desember 2025.
Robert Tajuddin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar